Rabu, 15 Februari 2017

Review Text

Review

Purpose:
The purpose of a review is to analyze and evaluate a creative work (movie, book, novel, painting, etc.), and to inform people about the strengths and weaknesses.

Text structure:
A review text consists of the following parts.

  • Orientation, which serves as a background information about the creative work that going to be discussed. The orientation identifies the work. 
  • Interpretative recount, which summarizes the plot of the work or the way the work came into being. in reviewing the movies or plays the plot and characters are briefly summarized. However, interpretative recount is optional in review. Many reviews of creative works do not include this part.
  • Evaluation, which present judgement and opinions on the creative work or performance. 
  • Evaluative summation, which sums up the review’s opinion of the art work or performance as a whole. 
Language features:
  • Use metaphorical language
  • Use epithets to describe the quality of something  
  • Use complex and compound sentences.

Narrative Text


Narrative

Purpose:
The purpose of narrative text is to entertain people. The stories can be real or imaginary.
The structure:
A narrative text mainly consists of three parts: orientation, complications (problems) and resolution. 

  • The orientation is the part where the writer of the story describes the characters (who involved in the story) and the setting (the context or situation in which the story takes place, that is where and when the story happened). In other words, the introduction answers the question ‘who’, ‘when’, and ‘where’ about the story. 
  • The complication or problem is the part where the writer introduces a problem, a change in the situation, or an action that requires a response. There is usually a major complication which is the core problem that will usually lead to other complication(s) or problem(s). These parts are usually the most interesting section of the whole story. 
  • The resolution is the part in which the writer presents the way the problem is resolved. The complication or problem may be resolved for better or for worse (happily or unhappily). The whole story ends in this section.
Language features:
  • Written in the first person (I, we) or the third person (he, she, they). 
  • Use connectives/linking words to do with time (once upon a time, one day, then, etc.)
  • Usually writen in the past tense. Use active nouns. 
  • Nouns do something (e.g. Rain splashed down.) 

Minggu, 12 Februari 2017

Bagaimana Mahar di Kacamata Islam?

Bagaimana Mahar di Kacamata Islam?

Mahar adalah suatu kewajiban yang harus dipenuhi seorang laki-laki ketika dia ingin menikahi seorang wanita. Mahar bisa berbentuk apa saja yang diinginkan oleh pihak wanita. Namun, terkadang hal ini mampu memberatkan pihak laki-laki untuk memenuhinya. Bahkan banyak pernikahan yang gagal terjadi karena pihak laki-laki yang tidak mampu memenuhi maharnya. Lalu, bagaimana mahar di kacamata Islam? Apakah pihak wanita diperbolehkan meminta mahar yang melebihi kapasitas ekonomi pihak laki-laki?

Mahar merupakan hal penting sebagai salah satu syarat sahnya suatu pernikahan. Karena begitu pentingnya, aturan ini dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 4.

“Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 4).

Allah SWT juga memerintahkan agar calon suami mempersiapkan mahar dengan kadar yang pantas atau tidak berlebihan atau kurang. Hal ini dijelaskan dalam Q.S. al-Nisa’: 25 yang artinya:

“Kawinilah mereka dengan seijin keluarga mereka dan berikanlah mas kawin mereka sesuai dengan kadar yang pantas, karena mereka adalah perempuan-perempuan yang memelihara diri.” (Q.S. al-Nisa’: 25).

Jadi mahar yang diminta atau diberikan dari pihak laki-laki ke pihak wanita haruslah sesuai dengan keadaan ekonomi dari kedua belah pihak. Tidak memberatkan dan harus sepantasnya. Selain itu, juga tidak boleh berlebihan karena hal ini bisa menimbulkan fitnah atau hal-hal yang buruk bagi pihak wanita maupun pihak laki-laki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Artinya : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya”. (An-Nur : 32)

Artinya, jika beban biaya pernikahan semakin sederhana dan secukupnya, maka semakin mudah kita menyelamatkan kehormatan laki-laki dan wanita. Bahkan perbuatan buruk (zina) dan kemungkaran akan semakin berkurang. Namun, jika kita memberatkan beban perkawinan dan mempermahal sebuah mahar, maka semakin berkuranglah perkawinan sehingga akan banyak muncul perbuatan buruk (zina) yang mungkin dilakukan oleh laki-laki atau wanita yang belum menikah.

Untuk menjauhi perbuatan buruk tersebut sebaiknya kita harus berpikir lebih bijaksana. Permudahlah urusan pernikahan dan mahar tersebut, cukupkanlah biayanya dan hindari menuntut atau memaksakan diri dalam menggelar acara pernikahan yang mewah. Akan lebih baik pernikahan dirayakan dengan sederhana dan hangat bersama keluarga dan teman-teman dekat. Bukankah itu lebih?☺☺

Apa Sih Mahar Itu?



Apa Sih Mahar Itu?


Di moment-moment pernikahan yang kita datangi ataupun di acara-acara sinetron seringkali kita mendengar kata ‘mahar’ disebutkan. Namun, apa sih mahar itu? Lalu, apa kegunaannya di dalam suatu pernikahan? 

Mahar adalah salah satu syarat wajib pada pernikahan muslim. Dalam Islam, mahar disebut sebagai mas kawin. Hal ini berarti mahar adalah suatu bentuk harta benda yang wajib disediakan oleh calon pengantin laki-laki untuk diberikan kepada calon pengantin perempuan. Kita bisa menyebutnya sebagai suatu bekal pribadi dan perlindungan untuk calon pengantin perempuan jika suatu hari nanti terjadi perceraian. 

Secara umum, mahar ditentukan oleh pihak perempuan, dia boleh meminta apa saja yang diinginkannya kepada pihak laki-laki. Jika mahar sudah disanggupi oleh pihak laki-laki barulah pernikahan akan dilangsungkan. Mahar diserahkan pihak laki-laki kepada pihak perempuan saat pernikahannya dilangsungkan, bukan sebelumnya ataupun sesudah menikah.

Jika kita menganut kebudayaan yang lama, mahar juga berfungsi sebagai alat ganti rugi pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Hal ini dikarenakan jika anak perempuan dari suatu keluarga akan menikah secara otomatis keluarga itu akan kehilangan hubungan dengan si perempuan, oleh sebab itu mereka meminta ganti rugi berupa mahar. Lalu, jika mahar telah diterima dan si perempuan telah menikah maka, sang perempuan itu menjadi milik keluarga besar sang pria. Tetapi jika pernikahan batal dan mahar terlanjur diterima pihak perempuan maka mahar wajib dikembalikan kepada pihak laki-laki.

Dalam era ini, mahar tidak lagi hanya berbentuk perhiasan atau sebuah amplop berisi sejumlah uang akan tetapi berubah fungsi menjadi sebuah pajangan atau kenang-kenangan bagi kedua mempelai. Banyak calon pengantin yang lebih memilih untuk mengkreasikan uang mahar mereka di dalam sebuah bingkai atau box daripada hanya diberikan begitu saja kepada si perempuan. Tidak harus semua uang mahar yang dikreasikan, bisa saja uang dibagi menjadi dua untuk dibuatkan mahar dan sisanya bisa digunakan untuk keperluan lainnya. Tapi yang terpenting mahar ini hak dari si perempuan jadi laki-laki tidak boleh menyentuh apa yang sudah diberikannya kepada perempuan yang sudah sah menjadi istrinya.

Bagaimana Posisi Tidur Ibu Hamil 5 Bulan yang Baik dan Sehat?



Bagaimana Posisi Tidur Ibu Hamil 5 Bulan yang Baik dan Sehat?

Para ibu muda yang baru mengalami kehamilan pertamanya pasti selalu bertanya-tanya, bagaimanakah posisi tidur ibu hamil 5 bulan yang baik dan sehat? Karena semakin bertambahnya waktu maka bentuk perut pun juga ikut membesar. Sehingga ketika si ibu ingin beristirahat, mereka akan berubah menjadi tidak nyaman dan cemas karena memikirkan kondisi kesehatan janinnya jika mereka melakukan posisi yang salah saat tidur. Hal ini memang harus diperhatikan bagi si ibu dan orang-orang yang berada di dekatnya. Pada saat usia kandungan mencapai 4, 5, dan 6 bulan mereka memang harus mengetahui posisi tidur yang aman bagi janinnya bahkan si ibu itu sendiri. Karena posisi tidur ibu hamil 5 bulan terkadang bisa menimbulkan masalah bagi si ibu dan janinnya jika tidak sesuai dengan kondisi kehamilan si ibu.

Posisi Tidur Ibu Hamil 5 bulan yang harus Dihindari
Rahim seorang wanita memang dirancang sedemikian rupa agar mampu menampung pertumbuhan janin yang setiap hari akan tumbuh dan membesar. Rutinitas berat yang terkadang harus dilakukan si ibu, membuat resiko gangguan pada janin semakin besar. Bahkan meskipun itu hanya berupa gerakan kecil saat tidur bisa saja hal itu membahayakan pertumbuhan janinnya. Meskipun ada beberapa posisi tidur ibu hamil 5 bulan yang baik dan sehat bagi janin, ada juga beberapa posisi yang sebaiknya dihindari agar kondisi ibu dan janinnya tidak mengalami gangguan karena posisi tidur si ibu yang salah. Berikut posisi tidur ibu hamil 5 bulan yang harus dihindari:
a.       Posisi Terlentang
Pada awal trimester yaitu 1, 2, dan 3 posisi ini masih terbilang aman dan nyaman bagi si ibu karena berat janin yang masih belum terasa. Akan tetapi, jika sudah memasuki trimester kedua atau awal bulan 4 dan selanjutnya posisi ini sangat tidak dianjurkan karena akan menimbulkan masalah pada si ibu.
Jika posisi ini masih dilakukan maka berbagai macam penyakit akan timbul seperti wasir, sakit pinggang dan keluhan gangguan pencernaan. Hal ini terjadi karena berat janin yang semakin bertambah dan membesar membuat organ-organ dalam ibu seperti; usus, tulang rusuk belakang bahkan aliran darah balik atau vena cava inferior akan tertekan saat tidur dalam posisi terlentang. Hal ini bisa menyumbat aliran darah dari bagian bawah menuju jantung sehingga memudahkan pembengkakan pada kaki. Selain itu posisi dapat menyebabkan sesak napas pada si ibu karena terdesaknya diagframa oleh janin sehingga paru-paru menjadi sempit.
Bagi penderita hipertensi, posisi tidur ibu hamil 5 bulan sangat tidak dianjurkan untuk terlentang. Posisi ini dapat memicu tekanan darah meninggi dan membuatnya lebih parah lagi saat usia kandungan mencapai 6 sampai 9 bulan.
Jadi posisi ini harus dihindari saat usia kandungan sudah mulai memasuki 5 bulan dan selanjutnya.


b.      Posisi Tengkurap
Posisi ini sangat dianjurkan pada usia kehamilan trimester pertama karena dapat memperlancar aliran darah ke rahim, namun sangat tidak dianjurkan bagi masa kehamilan trimester kedua. Sebenarnya posisi ini bisa digunakan oleh ibu hamil 5 bulan saat mereka ingin tidur dengan nyaman, akan tetapi hal ini tergantung dari seberapa besar ukuran kehamilan si ibu. Jika ukuran perutnya masih terbilang kecil maka posisi ini masih bisa digunakan dengan sedikit bantuan dari bantal yang diletakkan di bawah paha si ibu  sebagai ganjalan. Namun, jika perut si ibu terlalu besar maka posisi ini sangat tidak dianjurkan.
Payudara si ibu yang sensitif akan tertekan saat dalam posisi ini sehingga menimbulkan kondisi yang kurang nyaman bagi si ibu dan si bayi. Selain itu, peredaran darah antara ibu dan janin akan terganggu sehingga sangat membahayakan bagi keduanya.

Posisi Tidur Ibu Hamil 5 bulan yang Dianjurkan
Ada dua posisi tidur ibu hamil 5 bulan yang sangat dianjurkan bagi kesehatan si ibu hamil dan janinnya. Posisi-posisi tersebut adalah:
a.       Posisi Miring
Posisi tidur ibu hamil 5 bulan ini sangat dianjurkan karena sangat baik bagi kesehatan si ibu dan janinnnya. Posisi ini dapat menurunkan resiko keguguran pada wanita hamil, apalagi jika mereka tidur dalam posisi miring ke kanan. Seperti yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW tentang posisi tidur yang baik dan benar bagi manusia adalah posisi miring ke kanan. Posisi ini dapat mengalirkan aliran darah dari bilik jantung sebelah kiri ke seluruh tubuh secara lancar. Bahkan untuk para ibu hamil, posisi tidur seperti ini akan membuat aliran darah, nutrisi dan oksigen dari tubuh si ibu ke plasenta janin menjadi maksimal karena lancarnya aliran darah di pembuluh darah vena besar yang tidak tertekan pada bagian punggung. Posisi tidur ibu hamil 5 bulan ini juga dapat mempunyai manfaat yang bagus bagi ginjal dalam sistem ekresi dan cairan tubuh ibu sehingga dapat mencegah pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki dan tangan si ibu pada masa kehamilan.
Jadi bisa dikatakan bahwa posisi ini sangat dianjurkan pada ibu hamil yang memasuki usia trimester kedua untuk kesehatan si ibu dan tentunya si jabang bayi.

b.      Posisi Tidur Bersandar
Tidak semua ibu hamil merasa nyaman dengan posisi tidur ibu hamil 5 bulan yang dibahas sebelumnya, posisi miring. Jika hal ini terjadi maka bisa mengubah posisinya menjadi posisi bersandar. Hal ini bisa dilakukan dengan mengatur posisi kepala lebih tinggi dari perut. Selain itu bantal diletakkan di belakang kepala, leher, punggung dan pinggang untuk penyangga agar pernapasan si ibu tidak terganggu.